COVID-19: Pandemi, Hoax dan Perjuangan Pelaut

PANDEMI VIRUS CORONA


Tentu saja pandemi bukan istilah pelayaran semisal hibob, lego, able, rating, towing. Pandemi adalah tentang penyebaran wabah penyakit yang cepat dan global. Keadaan itu berimbas besar pada dunia usaha, termasuk pelayaran.

Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corana baru, Sars-Cov-2, yang dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO (11-03-2020) telah menimbulkan dampak nyata yang luas, tak terkecuali terhadap pelaut.


Pandemi
Merujuk pada KBBI, Pandemi adalah wabah yang berjangkit serempak dimana-mana, meliputi daerah geografi yang luas.

Penyebaran Covid-19 demikian luas, mengglobal, mencapai 204 negara di dunia, termasuk Indonesia. Kasus positif di dunia masih terus bertambah dan telah menembus angka 1 juta lebih dengan 213.542 sembuh dan 53.292 meninggal. Di Indonesia telah mencapai angka 1.986 orang, 134 sembuh dan 181 meninggal (03-04-2020).

Pemerintah negara masing-masing bekerja keras melakukan tindakan penanggulangan, antara lain:
  • Memulangkan warga negaranya yang berada di wilayah sebaran.
  • Melaksanakan karantina.
  • Memantau ODP.
  • Mengisolasi dan mengawasi PDP
  • Mengedukasi masyarakat.

ODP adalah Orang Dalam Pemantauan:
  • Mempunyai riwayat bepergian ke wilayah sebaran.
  • Tidak melakukan kontak dekat dengan penderita positif.
  • Tidak menunjukkan gejala atau hanya gejala ringan.
  • Diminta untuk melakukan isolasi mandiri.

PDP adalah Pasien Dalam Pengawasan:
  • ODP yang sakit dengan gejala menunjuk pada infeksi COVID-19, atau
  • berdasar hasil observasi ditemukan adanya gangguan pada saluran nafas bawah, atau ternyata
  • ada kontak erat dengan penderita positif.
  • ODP ini akan secara langsung dikriteriakan sebagai PDP. Selanjutnya diisolasi untuk dilakukan pengawasan.

Positif corona adalah PDP yang terkonfirmasi terinfeksi Covid-19 berdasarkan tes atau pengujian.

Ilustrasi berikut mungkin bisa menggambarkan dengan jelas:

A, B, dan C adalah pelaut yang baru pulang dari daerah terjangkit. Ketiganya adalah ODP. Kesehatannya akan dipantau. C kemudian sakit. Diantara gejalanya batuk pilek. Status C akan berubah menjadi PDP. C kini pasien yang diawasi. C akan menjalani pengujian. Hasil pengujian itu akan menentukan apakah dia positif corona atau negatif.

Mengedukasi masyarakat yaitu upaya memberi pemahaman dan petunjuk:
  • bagaimana penularan terjadi;
  • apa tindakan perlindungan diri yang perlu dilakukan;
  • apa gejala infeksi Covid-19;
  • kemana melapor dan memeriksakan diri jika sesorang mengalami gejala yang dimaksud.

Sars-Cov-2 adalah virus corona baru yang menyebabkan penyakit Covid-19. Saat masyarakat berjuang melawan virus ini, "virus" lain menyerang. Virus itu bernama HOAX.

Virus HOAX tidak kalah cepat penyebarannya. Satu berita hoax setelah dibaca judulnya saja, atau dibaca sepotong-sepotong langsung dibagikan oleh puluhan hingga ratusan orang hanya karena yang terbaca terasa sesuai dengan isi hatinya. Hoax mungkin hanya tindakan iseng atau akibat ketidakmengertian yang fatal.

Hoax tidak hanya membodohi tetapi juga dapat menyesatkan. Ini beberapa hoax seputar Corona:
  • Urin dan Kotoran Sapi Jadi Obat Virus Corona
  • Foto Penampakan Wujud Virus Corona Setelah diperbesar 2.600 kali
  • Aktor Hollywood Tom Hanks Meninggal Terkait Virus Corona

(Hormat saya kepada orang atau sekelompok orang, yang bahkan dengan biaya sendiri, bekerja keras melacak kebenaran sebuah berita, foto, atau video).

Physical Distancing
Tadinya bernama social distancing. WHO merubahnya menjadi physical distancing. Makna ini lebih kena. Jadi fisiknya saja yang berjarak, hubungan sosialnya tidak. Hubungan sosial tetap bisa dilakukan, misalnya by phone.

Ini merupakan upaya meredam laju penyebaran virus Corona dengan menjaga jarak fisik, mengurangi aktifitas di luar rumah dan interaksi dengan orang secara langsung, termasuk pergi ke tempat umum yang ramai seperti mall, gedung pertunjukan, dll.

Bagaimana pelaut bisa melakukan physical distancing di atas kapal?
  • Tetap di kapal
  • Jaga jarak aman
  • Hindari kumpul-kumpul
  • Laksanakan prosedur:
    • terhadap visitor yang naik ke kapal;
    • terhadap abk yang karena keperluan penting, atas ijin Nakhoda, pergi ke darat.

Bekerja di Garis Depan
Bekerja dari rumah (work from home) adalah bagian dari physical distancing, menjaga jarak fisik. Juga merupakan upaya meminimalisir penyebaran Covid-19. Tentu saja menyenangkan, bekerja dan berkumpul keluarga. Bisa makan bersama, bermain dengan anak. Itu semua tidak bisa dilakukan oleh pelaut. Pelaut harus bekerja di garis depan. Ya, DI GARIS DEPAN. Pelaut harus mengantar barang bahkan ke wilayah sebaran virus. Supply harus terpenuhi agar ekonomi tetap berjalan.

Jika sakit atau muncul gejala infeksi Covid-19 segera periksakan diri ke dokter. O, tidak bisa. Tunggu sampai kapal tiba di pelabuhan. Mungkin 1, 2, 3 hari, atau seminggu lagi. Tergantung dari distance to go alias jarak pelayaran yang tersisa.


Lindungi diri dan orang lain
  • Jika batuk dan bersin, tutup mulut dan hidung dengan tisu atau siku yang ditekuk.
  • Segera buang tisu bekas ke tempat sampah yang bertutup.
  • Cuci tangan di air jalan dengan sabun selama 20 detik. Cuci tangan ...
    • Setelah batuk atau bersin
    • Bila merawat orang sakit
    • Sebelum, dan sesudah memasak
    • Sebelum makan
    • Setelah buang hajat di toilet
    • Bila tangan tampak kotor
  • Jangan menyentuh mata, hidung, mulut dengan tangan yang belum dicuci.
  • Silakan tambahkan di kolom komentar.


Artikel ini telah diedit

Belum ada Komentar untuk "COVID-19: Pandemi, Hoax dan Perjuangan Pelaut"

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan comment sesuai tema. Iklan dan link hidup akan dihapus.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel