Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Wawancara Kerja: Hal yang Perlu Diketahui Pelaut


Wawancara

Pernah tes wawancara kerja? Jika pernah, apalagi sudah beberapa kali, tentu punya gambaran apa saja yang ditanyakan. Jika belum, hal-hal berikut ini perlu diketahui.


Memilih calon yang tepat

Jika kamu dipanggil untuk tes wawancara kerja, artinya perusahaan berminat merekrut kamu tetapi harus memastikan dulu bahwa kamu adalah calon yang tepat dari beberapa calon lain yang kualifikasinya memenuhi syarat yang ditentukan. Tentu perusahaan tidak mau salah dalam memilih calon.


Menggali informasi

Perusahaan akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali informasi apakah kamu berkepribadian baik (jujur, pekerja keras, berdedikasi tinggi). Tidak perduli, meskipun kualifikasi kamu tinggi, jika keperibadian dinilai negatif, bisa saja ditolak.


Pada bagian ini bisa muncul pertanyaan:
  1. Apakah sudah berkeluarga? Dimana tinggal?
  2. Coba ceritakan sedikit tentang diri kamu dan keluarga kamu.
  3. Dari mana kamu mengetahui perusahaan ini?
  4. Kenapa ingin bergabung dengan perusahaan ini?
  5. Kenapa keluar dari perusahaan sebelumnya?

Untuk menjawab pertanyaan 5, hati-hati, jangan sekali-kali menjelek-jelekkan perusahaan sebelumnya. Jika itu terjadi, pewawancara akan menganggap bahwa suatu saat kamu juga akan menjelek-jelekkan perusahaan ini. Berilah jawaban yang bisa diterima kenapa kamu keluar dari perusahaan itu.


Pertanyaan berkembang

Selanjutnya pertanyaan bisa meluas ke arah lebih dalam sebelum masuk kepada bidang kerja. Pertanyaan yang bisa muncul, misalnya:

  1. Berapa gaji di perusahaan sebelumnya?
  2. Di sini gaji kamu hanya .... Bagaimana pendapat kamu?
  3. Bagaimana pendapat kamu tentang kerja lembur?
  4. Jika ada masalah dengan pekerjaan, kamu lebih suka menyelesaikan sendiri atau minta masukan dari teman kerja?
  5. Kalau lagi jenuh, galau apa yang biasanya kamu lakukan?


Pertanyaan 4 adalah untuk mengukur apakah kamu bisa menerima masukan. Orang yang tidak suka memerima masukan dijamin tidak bisa bekerja dalam team.

Pertanyan 5 adalah untuk mengukur cara kamu mengusir kejenuhan atau stress. Ini bisa menjadi petunjuk tentang kebiasaan kamu, baik atau buruk. Olahraga, membabaca buku, bermain atau mendengarkan musik, atau menelpon keluarga bisa menjadi pilihan jawaban yang aman.


Bidang kerja

Berikut pertanyaan menyangkut bidang kerja. Wawancara bisa dilanjutkan oleh pewawancara yang sama atau dilakukan oleh orang lain yang menguasai bidangnya.


Contoh wawancara

Ini contoh wawancara dengan calon Koki (cook), bukan Chef.
  1. Berapa temperatur ruang daging?
  2. Bagaimana memperlakukan sayuran semacam tomat, cabe, terung agar tidak cepat busuk di gandrum?
  3. Apa ciri-ciri bahwa ikan sudah tidak segar?
  4. Ada gorengan, luarnya matang, dalamnya masih mentah. Menurut kamu apa sebabnya?
  5. Coba sebutkan beberapa olahan daging yang kamu bisa?
  6. Coba sebutkan beberapa menu sayur yang kamu kuasai.
  7. Jika ada menu yang tidak disukai, apa yang kamu lakukan?


Ada koki yang mau mencari tahu apa penyebab suatu masakan tidak dimakan dan berusaha memperbaikinya. Koki seperti ini tidak segan bertanya apa yang kurang. Sebaliknya ada koki yang tidak mau tahu. Dimakan tidak dimakan bukan urusan dia. Dia merasa sudah bekerja melaksanakan tugasnya. ABK seperti ini susah majunya.


Pertanyaan jebakan

Pertanyaan sering berkembang dari sebuah jawaban.
Pewawancara yang berpengalaman pandai membuat pertanyaan yang menjebak. Peratanyaan-pertanyaan ini diramu sedemikian rupa sehingga tidak disadari oleh pelamar bahwa itu sebenarnya jebakan. Tujuannya adalah untuk memperoleh informasi apakah calonnya adalah calon yang tepat, berkepribadian baik atau buruk, memahami bidang pekerjaannya atau tidak dan bisa bekerja dalam team atau tidak. Intinya, ada tiga wilayah yang dinilai, yaitu attitude atau sikap, personality atau kepribadian, dan competence atau penguasaan bidang kerja.


Perhatikan contoh berikut:

Q: Tanya
A: Jawab


Q: Di kapal apa terakhir?
A: Tanker. (nama kapal)


Q: O, punyanya (nama perusahaan) ya?
A: Betul.


Q: Oiler terima berapa?
A: Baru join lima segel. Setelah setahun ada kenaikan.

Jangan menganggap pewawancara tidak tahu sehingga kamu memberikan jawaban angka yang lebih besar dari sebenarnya dengan harapan bisa nego lebih tinggi nanti.


Q: Lima segel, lumayan lah. Belum lagi "kencing"nya ya?
A1: Alhamdulillah, lumayan. Kemaren minimal 3 trip sebulan. (jawaban bunuh diri)
A2: Alhamdulillah, tidak ada. Kalau pun ada saya tidak mau terima

Siapkan jawaban pertanyaan "Kenapa tidak mau terima?"


Q: Kenapa keluar dari perusahaan itu?
A1: Ada yang jelek-jelekin saya. Katanya saya malas. Kalo jaga sering tidur. (jawaban konyol)
A2: Kontrak saya habis. Mau balik lagi tapi belum ada yang kosong. Paling cepat 3 bulan lagi.


Q: Kenapa ingin join di perusahaan ini?
A1: Dengar-dengar terima lebih besar dari tempat saya kemaren.
A2: Info dari teman safety di sini bagus dan ada kesempatan untuk sekolah.


Q: O, iya. Keluarga kamu kan di Jakarta. Kapal ini operasi di timur, gak masuk Jawa. Gimana pendapat kamu?

A1: Kalo ada ongkosnya kan bisa minta ijin ngetrip nanti. Gantian sama teman gitu.
(Waduh, ini perusahaan lu yang ngatur apa gua yang ngatur?).

A2: Tidak masalah. Sudah risiko pekerjaan. Keluarga saya menerima.



Q: Di kapal lama ada nggak latihan-latihan keselamatan? Boat Drill, Fire Drill, ada gak?
A: Ada sih.

Q: Kamu ikut nggak?
A1: Kadang-kadang ikut. Tapi kalo pas jaga, saya lebih suka kerja yang lain aja.
A2: Safety drill itu penting. Saya selalu ikut.


Contoh di atas tentu hanya sebagian dari banyak pertanyaan jebakan yang dapat muncul, bergatung pada informasi apa yang ingin digali oleh pewawancara.

Demikian tentang hal-hal yang perlu diketahui oleh pelaut ketika akan mengikuti tes wawancara kerja. Semoga bermanfaat.

Posting Komentar untuk "Wawancara Kerja: Hal yang Perlu Diketahui Pelaut"